Hai Jelita,
Sejauh mana sihir manismu?
Usir nelangsa yang sekian lama meraja
Hapus mendung yang menunggu
Hai Jelita,
Semenakjubkan apa senyumanmu?
Mekarkan ceria di dada
Hadirkan rindu yang menjamu
Hai Jelita,
Seteduh apa melodimu?
Tenangkan jiwa dengan rindangnya
Manjakan aku yang memburu
Hai Jelita,
Sehebat apa dirimu?
Tanamkan indah kasih dan cinta
Tumbuhkan pesona yang merayu
Hai Jelita,
Ya,
Kamu
Senin, 23 Februari 2015
Minggu, 22 Februari 2015
Lembar Baru
Awal perkenalan kita sangatlah lucu
Melalui maya yang tak kita ketahui
Tiga huruf dua karakter kecil dariku
"hei ;)"
Dan tiga huruf dua karakter itu pula balasmu
Kata demi kata terlempar lepas antara kita
Tak tahu siapa yang memulainya
Hanya terlempar begitu saja
Pertemuan pertama kita pun sangatlah lucu
Dari penantian yang paling mendebarkan seumur hidupku
Dengung riuh ditelinga kiriku
Aku gemetar!
Baru pertama kita berjumpa
Tapi setahun serasa kita saling menyapa
Tawa kecil dan manja milikmu, mengagumkan
Genggaman hangat itu, menenangkan
Hingga cemburu kecilmu itu, menyenangkan
Hei gadis kecil yang membuka kunci pintu rapat hati ini
Tahukah kamu aku bahagia?
Melalui maya yang tak kita ketahui
Tiga huruf dua karakter kecil dariku
"hei ;)"
Dan tiga huruf dua karakter itu pula balasmu
Kata demi kata terlempar lepas antara kita
Tak tahu siapa yang memulainya
Hanya terlempar begitu saja
Pertemuan pertama kita pun sangatlah lucu
Dari penantian yang paling mendebarkan seumur hidupku
Dengung riuh ditelinga kiriku
Aku gemetar!
Baru pertama kita berjumpa
Tapi setahun serasa kita saling menyapa
Tawa kecil dan manja milikmu, mengagumkan
Genggaman hangat itu, menenangkan
Hingga cemburu kecilmu itu, menyenangkan
Hei gadis kecil yang membuka kunci pintu rapat hati ini
Tahukah kamu aku bahagia?
Rabu, 18 Desember 2013
Aku Pulang Peri Kecilku
Menghitung detik demi detik
Terasa jarum jam berjalan lambat
Aku tak sabar
Ya
Tak sabar berjumpa dengan peri kecilku
Hai peri kecil
Masihkah kau tunggu aku di sana?
Di sudut ruang yang terkunci
Yang kusebut rindu
Aku menunggu saat itu
Saat kita mengulas kembali masa lalu
Dan kita laluinya esok hari
Menggenggam jemarimu lingkari perutku
Tertawa lepas saat kamu mengetuk kepalaku
Atau bergurau kesana kemari saat mengajarimu matematika
Aku ingin ulangi semua
Diwaktu yang tak lama
Hanya selusin hari
Ya hanya selusin hari aku akan di sana
Tunggu aku peri kecilku
Kita nikmati waktu kita menindas rindu
Yang ku tahu
Waktu selalu kalah dengan rindu
Terasa jarum jam berjalan lambat
Aku tak sabar
Ya
Tak sabar berjumpa dengan peri kecilku
Hai peri kecil
Masihkah kau tunggu aku di sana?
Di sudut ruang yang terkunci
Yang kusebut rindu
Aku menunggu saat itu
Saat kita mengulas kembali masa lalu
Dan kita laluinya esok hari
Menggenggam jemarimu lingkari perutku
Tertawa lepas saat kamu mengetuk kepalaku
Atau bergurau kesana kemari saat mengajarimu matematika
Aku ingin ulangi semua
Diwaktu yang tak lama
Hanya selusin hari
Ya hanya selusin hari aku akan di sana
Tunggu aku peri kecilku
Kita nikmati waktu kita menindas rindu
Yang ku tahu
Waktu selalu kalah dengan rindu
Jumat, 13 Desember 2013
Subuh
Pagi memeluk sepi
Sepi yang pekikkan telinga
Sepi yang teriakkan luka
Subuh mengerti
Bungkam perih dengan diri
Kala fajar menjelma jadi lukisan terang
Dan daun pun senyap terbuai belaian
Subuh paham
Paham hadir kita
Hadir yang menghirup lembut kasih
Dan melumat perih
Subuh
Ya subuh
Demi waktumu yang dingin
Demi wajahmu yang gelap semu terang
Ya subuh
Aku tahu engkau
Aku tahu engkau
Ya subuh
Sepi yang pekikkan telinga
Sepi yang teriakkan luka
Subuh mengerti
Bungkam perih dengan diri
Kala fajar menjelma jadi lukisan terang
Dan daun pun senyap terbuai belaian
Subuh paham
Paham hadir kita
Hadir yang menghirup lembut kasih
Dan melumat perih
Subuh
Ya subuh
Demi waktumu yang dingin
Demi wajahmu yang gelap semu terang
Ya subuh
Aku tahu engkau
Aku tahu engkau
Ya subuh
Rabu, 04 Desember 2013
- (2)
Kata yang terangkai dalam serambi cinta tertetesi air
Air mata
Air mata rindu yang mendesak memberontak hati yang kuncinya
Mengapa jarak begitu berat?
Ketika kita terhimpit sesak karena waktu yang tentukan
Hei rindu,
Tidak bisakah kamu berhenti menyiksaku?
Temukan kami, aku, dan dia
Dalam temaram rinai senja yang indah
Hei kasih
Tunggulah aku kembali
Di batas yang lekang dalam hati
Jelita hati,
Percayakan aku di sini,
Menggenggam indah janji jemari
Dalam senja yang kita lewati
Dulu
Sekarang
Dan nanti
Air mata
Air mata rindu yang mendesak memberontak hati yang kuncinya
Mengapa jarak begitu berat?
Ketika kita terhimpit sesak karena waktu yang tentukan
Hei rindu,
Tidak bisakah kamu berhenti menyiksaku?
Temukan kami, aku, dan dia
Dalam temaram rinai senja yang indah
Hei kasih
Tunggulah aku kembali
Di batas yang lekang dalam hati
Jelita hati,
Percayakan aku di sini,
Menggenggam indah janji jemari
Dalam senja yang kita lewati
Dulu
Sekarang
Dan nanti
Langganan:
Postingan (Atom)