Sabtu, 30 November 2013

Demi

Demi setitik awan di udara
yang mengapung lembut sekenanya

Demi setetes embun di tepian
yang rela biarkan sang waktu menjatuhkan

Demi selembar daun di pohon tua
yang siap terbang lepas sesukanya

Demi sebutir debu di jalanan
yang mampu menahan beban di jalanan

Demi rasa yang kusebut itu CINTA
yang siap menangkapku entah dalam kelam
atau dalam senang

Aku melihat demi-demi yang lain di sekelilingku
Yang lain ucapkannya dengan gerutu
Sisanya nyanikan dengan syahdu

Apa salahmu demi
Jika kamu ada untuk sumpah serapah

Dan apa jasamu demi
Jika kamu ada untuk janji setia

                  Demi Demi
Demi          Demi Demi          Demi
Demi Demi Demi Demi Demi Demi
Demi Demi Demi Demi Demi Demi
Demi Demi Demi Demi Demi Demi
         Demi                   Demi

Kisah Sang Ratu

Rembulan yang terkikis prlahan
Hadirkan keemasan fajar di ujung bumi
Bak lukisan cinta rembulan yang rela terhapuskan
Demi sang mentari

Aku memahami desah keluhnya
Rembulan yang menyesap bibirnya
Tapi cinta itu taklukannya
Kalahkan cantiknya pada sang arjuna hari
Yang gagah tak pilu

Aku mendengar lirih gelisahnya
Tatkala sang raja tenggelam dalam senja
Rembulan meringkuk sendu dalam pucatnya
Meresapi sedih karna hilangnya arjuna
Tinggalkan ia sendiri sembunyi dalam gelap

Hei mentari,
Mengapa kau tak lebih gagah hampirinya?
hampiri sang ratu sedang kau sang raja?
Akankah tanya ini kaau jawab?
Atau hanya diam semata?

Jumat, 29 November 2013

Kisah Sang Raja

Mentari yang terjun bebas perlahan
Hadirkan semburat merah kejinggaan
Bak lukisan cinta sang mentari yang rela tenggelam
Demi sang rembulan

Aku memahami desah keluhnya
Mentari yang mengulum lidahnya
Tapi cinta itu kalahkannya
Takhlukkan gagahnya pada sang juwita malam
Yang juga masih malu-malu

Aku mendengar lirih gelisahnya
Tatkala sang ratu tak kunjung datang suatu malam
Mentari menangis sekenanya
Meratapi jelita yang entah dimana
Tinggalkan ia sendiri terlelap

Hai rembulan,
Mengapa kau pura-pura tak tahu cintanya?
Cinta sang raja padamu, ratunya?
Akankah tanya ini kau jawab?
Atau hanya diam semata?

-

Beribu kicau merpati hinggapi nadi
Beribu tepukan daun selimuti hati
Merajut asa yang pernah susah
Antara Aku dan Kamu

Kita kini bertemu kembali
Dalam melodi lirih yang kita sebut kenangan
Yang kali ini kita lukis lagi
Bersama
Dalam kanvas usang yang indah

Jemari kita melentik
Mengikat simpul hati
Tak rela lepas tuk kesekian kali
Mungkin ini untuk selamanya
Aku harap
Bukan
Aku yakin

Aku
Kamu
Kita
Cinta
Kenangan
Lagi
Terakhir
Selamanya

Kamis, 28 November 2013

Hei

Hei sayang,
Panggilan-panggilan manja kita beradu di tepian
Tak rela rasanya mengakhirinya dengan lelap
Hanya ingin denganmu hingga senyap
Hei kamu,
Yang piawai menari dalam hatiku
Menggelitik sepiku dengan keluguanmu
Dan mendentingkan senyumku
Hei misteri,
Sang pemilik mata itu
Mata yang penuh rahasia
Yang paksaku untuk meminta cerita
Hei putri,
Mendekatlah kemari
Sinari pagiku dengan mimpi
Dan balut sepiku dengan hati

Kita

Sayang,
Apa aku masih bisa memanggilmu begitu?
Merasakan hangatnya tanganmu melingkari perutku?
Menjamah angin yang membelai ikatan hati kita?
Mungkin khayalku terlalu terbang
Menguap dan mungkin tak bisa ku genggam
Tapi harap hanya harap
Dan lelap hanya lelap
Mungkin lelap hatimu yang bosan melihatku
Terus terang
Aku merindu kepingan kecil yang menyatukan aku dan kamu : 'Kita'
Merindu tiap jengkal langkah yang kita lalui : 'Masa Lalu'
Merindu tiap desah sayang yang kita lemparkan : 'Cinta'
Maaf aku merindu kita
Maaf aku merindu masa-masa kita
Maaf aku merindu CINTA lama yang masihkah bisa kusebut itu cinta kita?
Ataukah itu hanya cintaku semata?

Rabu, 27 November 2013

Kamu

Aku suka saat kamu menggangguku
Mengetuk kepalaku,
Memukul punggung dan bahuku,
Dan berceloteh kesana kemari
Itulah seni terindah yang pernah ku temui
Menjadi bagian kecil dari jutaan kepingan kisahmu,
Mendengar luapan-luapanmu,
Merasakan guncangan-guncangan karenamu,
Dan menikmati senyummu
Yah,
Senyum bak senja tanpa hujan
Cerah, mencerahkan
Indah, mengindahkan
Penuh ketentraman dan kedamaian
Bahagiamu, bahagiaku
Walau sejenak, hati berkilah: 'Dia bukan lagi milikmu'
Ya, memang
Kamu bukan lagi milikku
Maafkan aku telah berlebih merasa
Tapi itu terlalu indah unttuk teracuhkan olehku

Embun

Tetesan embun pagi tadi pun menguap
Tinggalkan butiran debu yang hinggap
Layaknya masa lalumu,
Mungkin aku tak lagi ada
Hanya tinggalkan butiran luka kering yang tak hilang
Akankah aku bisa kembali membasuhnya?
Layaknya embun yang akan datang esok pagi
Dan terserap lewat kapilaritas yang ada dan tak pernah pergi lagi
Masuk ke dalam hidupmu,
Menjadi bagian penting dalam siklus hidupmu,
Dan selalu jadi yang kamu butuh
Layaknya embun yang dijatuhkan Tuhan
Untuk menjadi apa yang dibutuhkan